Latest News


More

Baliem Nission Center - Pelayanan Kesehatan di Esrotnamba

Posted by : Anonim on : Kamis, 05 Desember 2013 0 comments
Anonim
Saved under : ,
Pelayanan Kesehatan
Pelayanan Kesehatan Baliem Mission Center (BMC)
Baliem Medical Center adalah bagian dari Baliem Mission Center yang khusus memberi pelayanan di bidang kesehatan. Perjalanan pelayanan Baliem Medical Center diawali dari Wamena menuju  ke Nabire pada tanggal 30 Juli 2012 untuk memberi pelayanan di Orainamba dan Esrotnamba, untuk menindaklanjuti kunjungan perdana Baliem Mission Center di Orainamba pedalaman Kaimana-Papua Barat.
 
Dalam perjalanan kali ini, kami terbagi dalam dua kelompok penerbangan, ini dikarenakan kapasitas daya angkut pesawat yang kami tumpangi. Ada pun kelompok pertama yang berjumlah lima orang  dipimpin langsung oleh Direktur Baliem Mision Center, berangkat menggunakan pesawat Cesna milik MAF.  Cuaca agak kurang bersahabat dipagi itu dengan turunnya hujan. Kami pun menunggu hingga cuaca sedikit cerah agar dapat melakukan penerbangan. Dalam cuaca seperti itu tentu saja perjalanannya akan memakan waktu, dan diperkirakan lamanya sekitar dua setengah jam. Namun, setelah terbang cuaca menjadi lebih cerah, sehingga kami tiba lebih cepat dari jadwal yang ditentukan. Keesokan harinya (31 Juli 2012) dua anggota tim kami menyusul dengan menggunakan helicopter milik Helivida yang dikemudikan oleh pilot Erwin. Siang harinya kami pun bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke Orainamba dan Esrotnamba menggunakan Helivida.

Esrotnamba daerah yang belum tersentuh oleh pembangunan dan kehidupan modern, daerah yang sama sekali baru bagi kami. Masyarakat disana menerima kami dengan sangat bersahabat. Hal yang menambah keharuan saya adalah saat menyaksikan kehidupan masyarakat yang sangat sederhana. Terima kasih Tuhan buat kesempatan yang Engkau berikan untuk dapat berbagi dengan sesamaku di atas tanah dan negeri yang sangat indah ini. Dari sekian banyak perjalanan pelayana kesehatan yang saya lakukan di desa-desa terpencil lainnya, Esrotnamba sangat berkesan di hati.

Hari pertama kami di Esrotnamba tidak banyak yang kami lakukan, hanya berdiskusi dengan masyarakat setempat, karena kami harus beristirahat dan memulai pelayanan kesehatan keesokkan harinya.
Tanggal 1 Agustus 2012, saya terbangun karena mendengar kicauan burung dan suara ayam berkokok yang sangat keras. Rupanya di daerah ini masih banyak terdapat burung kakatua dan burung nuri. Matahari belum terbit sekitar pukul 5 pagi, namun saya bangun dan mendatangi pondok mama Regina. Dari kejauhan tampak terlihat nyala api dari tungku mama Regie. Mama Regie tipikal seorang wanita yang sangat kuat, pekerja keras, seorang ibu yang penuh perhatian dan bertanggungjawab. Mama baru akan tidur ketika semua tamu dan keluarganya sudah tidur dan ia akan bangun lebih pagi ketika seluruh anggota keluarga belum bangun.
Sambil menghangatkan badan mama Regina membakar pisang, keladi dan merebus air panas diatas tungku api. Kita hanya menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi karena mama tidak bisa berbahasa Indonesia. Anak laki-lakinya lalu bangun, karena tahu bahwa kami tidak dapat berkomunikasi (beberapa anak muda telah diajarkan berbahasa Indonesia oleh Pdt Petrus Giyai sejak pertama kali dating kesana tahun 2011). Akhirnya kita bertiga bisa bercerita sambil menikmati pisang bakar yang masih panas. Tak terasa matahari telah terbit dan puji Tuhan karena diberikan pagi yang sangat cerah, saya lalu pamit ke mama Regie dan beranjak pergi mempersiapkan diri untuk kegiatan pelayanan.

Sekitar Pukul 09 pagi, kami Tim Baliem Medical Center yang terdiri dari dr Maria Rumateray, dr Roland Lallo dan Zr Christin.Walillo telah siap untuk memberi pelayanan kesehatan, Ibu-Ibu dan anak-anak sudah berdatangan ke pondok pelayanan kesehatan,,sementara bapak-bapak masih sarapan pagi dan berdiskusi dengan bapak-bapak pendeta dari kota.

Pelayanan kesehatan pagi itu belum bisa dimulai karena ibu-ibu agak sungkan untuk menyampaikan  sakitnya kepada kami. Ternyata sudah menjadi kebiasaan pada suku ini, bahwa  mereka tidak dapat menyampaikan keluhannya jika ada laki-laki yang asing bagi mereka. Akhirnya pelayanaan untuk wanita dan anak-anak dilayani oleh dokter Maria. Dan setelah selesai pelayanan ibu dan anak dilanjutkan dengan pelayanan para pria oleh dr Roland.

Pelayanan berjalan lancar dan kami juga dibantu oleh seorang penterjemah sehingga keluhan sakit dari semua pasien dapat kami ketahui dengan baik. Ada sebuah kisah yang cukup unik dari seorang mama. Pada saat pemeriksaan fisik ternyata ditemukan ada pembesaran hati,hepar teraba 4 jari bawah arkus kosta. Ketika kami memberitahukan kemungkinan–kemungkinan penyebab pembesaran hati ini secara medis, ternyata hal itu malah membuat si mama menangis. Kami sempat berpikir bahwa mungkin ada yang salah dari penjelasan tersebut. Ternyata tidak, menurut mama sakitnya itu disebabkan karena ia sedang jalin hubungan dengan seorang pria. Dan yang membuatnya menjadi sakit seperti itu, karena si pria tersebut pergi meninggalkannya. Sehingga si mama sakit hati dan menyebabkan hatinya menjadi besar…..kami semua tersenyum.
Dari pelayanan selama dua hari, kami juga mengumpulkan data beberapa marga/fam di kampung tersebut, antara lain marga/fam Usera, Tabuane, Murai, Kombey, Mufara, Sinaonda dan Oru,
Kemudian 5 penyakit besar yang kita temukan adalah : ISPA, Febris, Mialgia, Tinea, serta satu kasus Hydrocel yang kami rujuk untuk bedah di Jayapura. Operasi/bedah berjalan baik dan pasiennya sudah kembali ke Esrotnamba.

Total masyarakat yang kami layani sejumlah 50 orang, dengan jumlah pria 27 orang dan wanita 23 orang. Yang dikelompokan menurut umur 0-5 tahun 14 orang, 5-15 tahun 6 orang, 15-40 tahun 15 orang, 40-60 tahun 8 orang dan lebih dari 60 tahun 7 orang.

Tim lalu berdiskusi dan sepakat untuk beberapa hal yang harus ditindaklanjuti kedepan bagi masyrakat setempat. Diantaranya, melakukan pelayanan kesehatan secara kontinyu untuk mereka setiap dua bulan sekali, penyediaan rumah sehat, penyediaan air bersih, pembuatan MCK, pembuatan tempat sampah organic dan non organic. Dan berharap kedepan di kampung ini dapat dilayani oleh Dokter PTT yang bersedia di tempatkan disana, juga tenaga perawat, bidan dan tenaga Gizi. Tenaga Gizi sangat diperlukan untuk mengajarkan tentang cara-cara mengelolah makanan yang sehat dan bergizi. Menurut pengamatan kami, masyarakat setempat tidak kekurangan makanan, semua telah tersedia baik itu karbohidrat, protein, sayur-sayuran dan buah.

Kebersihan lingkunag sekitar halaman rumah sangat dijaga, demikian juga kebersihan disekitar danau. Masyarakat sangat memahami bagaimana pentingnya menjaga kebersihan lingkungan di sekitar danau. Hal itu nampak dari air danau yang tidak tercemar.

Kami pun berupaya bersama masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan. Kami berupaya sedapat mungkin untuk mensterilkan helicopter yang kami tumpangi agar tidak membawa nyamuk,dan hewan lainnya yang dapat menyebabkan masalah kesehatan yang baru bagi masyarakat setempat.

Hari ketiga di Esrotnamba, kami hanya melakukan kunjungan ke rumah warga sambil membagikan garam dan bahan kontak lainnya yang kami bawa dari Nabire. Setelah itu kami menyempatkan diri untuk bersampan di tengah danau sambil menunggu sekelompok ibu-ibu yang menyiapkan bakar batu (cara masak ala Papua) untuk makan siang bersama, juga tak ketinggalan masakan mama Regina yang sangat enak, yaitu 10 ekor ikan gabus yang yang di pancing kurang lebih 20 meter di pinggiran danau. Ikan tersebut dibersihkan lalu diberi garam dan cabe, kemudian dimasukan kedalam bambu dan dibakar di tungku api mama Regina.
Pekerjaan belum berakhir ditempat ini, kami akan tetap memberikan pelayanan kesehatan kepada saudara-saudara kami, sampai tersedia balai pengobatan dan tenaga kesehatan yang menetap bersama warga kampung Esrotnamba.

Sungguh sebuah pelayanan kemanusian yang sangat luar biasa dan menyentuh hati nurani. Dalam hati saya berkata, ‘kita melewati kehidupan ini hanya sekali saja, oleh sebab itu setiap kebaikan yang bisa kita lakukan, atau setiap kemurahan yang bisa kita tunjukan kepada sesama, biarlah dilakukan sekarang juga, jangan ditunda atau dilupakan, karena sesuatu yang kita lakukan tidak akan terulang lagi’.
Terima kasih Tuhan, untuk perjalanan kemanusian ini. Kami Bisa Ada untuk  melihat, mendengar, mencintai dan melayani saudara-saudara kami di atas Tanah dan Negeri kami.
Dari perjalanan dr. Maria Rumateray

Tidak ada komentar:

Leave a Reply

Terimakasih atas kunjungan anda. Silahkan tinggalkan pesan, kritik, saran dan komentar dari anda yang sangat kami harapkan.